Minggu, 02 Agustus 2009

Tegakkan Sunnah Hapuslah Bid'ah

Sebaik-baik perkataan adalah firman Allah SWT dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk yang harus ditempuh oleh orang-orang yang mengharapkan kejayaan dan merupakan jalan yang mesti dilalui oleh orang-orang shaleh yaitu sunnah Nabi Muhammad SAW, tidak ada pentunjuk yang lebih baik dari pada petunjuk beliau dan tidak ada lagi jalan hidup yang lebih lurus selain jalan dari pada jalan hidup yang beliau tempuh. Allah SWT berfirman:

“Dan (hukum) siapakah yang lebih baik dari pada (hukum) Allah, bagi orang-orang yang yakin”. (Al-Maidah: 50)

Namun ternyata iblis la’natullah ‘alaihi tidak pernah berhenti menyesatkan anak cucu Adam. Dengan berbagai cara tipu muslihat ia mencoba memalingkan manusia dari cahaya ilmu membiarkan mereka tersesat dan kebingungan dalam gelapnya kebodohan. Dari situlah iblis kemudian memasukkan hal-hal yang secara lahiriah adalah perbuatan baik/amal shalih ke dalam agama namun sebenarnya itu tidak pernah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Muncullah berbagai keyakinan dan amalan yang tidak pernah diajarkan Rasulullah SAW. Lahirlah i’qtiqad dan perbuatan yang tidak pernah dikenali oleh generasi terbaik umat ini; generasi As-Salafus Shalih,

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya barang siapa yang hidup di antara kalian maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, (maka saat itu) ikutilah sunnahku dan sunnah para khulafa’ ar-rasyidin yang mendapat hidayah, berpegang teguhlah denganya dan gigitlah (sunnah) dengan gigi-gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena setiap perkara yang dibuat-buat adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi ia katakan hadits hasan shahih)

Yang dimaksud bid’ah adalah segala perkara yang dibuat-buat dalam agama yang sama sekali tidak memiliki dasar dalam syariah. Dan barang siapa yang mencoba melakukan hal ini, maka dia akan masuk dalam ancaman Rasulullah SAW: “Barang siapa yang membuat-buat hal baru dalam urusan (agama) kami, apa-apa yang tidak ada keterangan darinya maka ia tertolak”. (HR. Al-Bukhori dan Muslim), dalam riwayat Muslim yang lain beliau bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak dilandasi/sesuai dengan keterangan kami, maka ia tertolak”.

Hadits di atas merupakan suatu dasar terpenting dalam ajaran Islam, sehingga berdasarkan hadits ini perbuatan apapun yang diada-adakan dalam Islam bila tidak diizinkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh dikerjakan, walau bagaimanapun baik dan bergunanya menurut akal kita.

Sesungguhnya perilaku bid’ah dan segala perilaku yang mengarah pada penambahan terhadap ajaran Islam adalah tindakan kejahatan yang amat sangat nyata. Bila kejahatan bid’ah ini dilakukan maka “kejahatan-kejahatan” lain akan muncul, diantaranya: Perilaku bid’ah menunjukkan bahwa pelakunya telah berprasangka buruk (su’udzan) terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya yang telah menetapkan risalah Islam, karena pelaku bid’ah telah menganggap bahwa agama ini belumlah sempurna sehingga perlu diberikan ajaran-ajaran tambahan agar lebih sempurna. Itulah sebabnya Imam Malik bin Anas pernah berkata: “Barang siapa yang membuat sebuah bid’ah dalam Islam yang dianggap baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad SAW telah mengkhianati risalah yang diturunkan Allah pada-Nya, karena Allah berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan buat kalian din kalian, dan telah kucukupkan atas kalian nikmantKu, dan telah Aku relakan Islam sebagai agama kalian”. (Al-Maidah: 3)

Di samping itu, berdasarkan point pertama maka dampak negatif lain dari pelaku bid’ah adalah bahwa hal ini akan mengotori dan menodai keindahan syariah Islam yang suci dan telah disempurnakan oleh Allah SWT. Perbuatan ini akan memberikan kesan bahwa Islam tidaklah pantas menjadi pedoman hidup karena ternyata belum sempurna.

Perbuatan bid’ah juga akan mengakibatkan terhapusnya dan hilangnya syiar-syiar As-Sunnah dalam kehidupan umat Islam. Hal ini disebabkan tidak ada satupun bid’ah yang muncul dan menyebar melainkan sebuah sunnah akan mati bersamanya, sebab pada dasarnya bid’ah itu tidak akan muncul kecuali bila As-Sunnah telah ditinggalkan. Sahabat Nabi yang mulia, Ibnu Abbas RA, pernah menyinggung hal ini dengan mengatakan: “Tidaklah datang suatu tahun kepada umat manusia kecuali mereka membuat-buat sebuah bid’ah di dalamnya dan mematikan As-Sunnah, hingga hiduplah bid’ah dan matilah As-Sunnah”.

Tersebarnya bid’ah juga akan menghalangi kaum Muslimin untuk memahami ajaran-ajaran agama mereka yang shahih dan murni. Hal ini tidaklah mengherankan, karena ketika mereka melakukan bid’ah tersebut maka saat itu mereka tidak memandangnya sebagai sesuatu yang salah, mereka justru meyakininya sebagai sesuatu yang benar dan termasuk dalam ajaran Islam. Hingga tepatlah kiranya apa yang dinyatakan oleh Imam Sufyan Ats-Tsaury: “Bid’ah itu lebih disenangi setan dari pada perbuatan maksiat, karena perbuatan maksiat itu (pelakunay) dapat bertaubat (karena bagaimanapun ia meyakini bahwa perbuatannya adalah dosa) sedangkan bid’ah (pelakunya) sulit untuk bertaubat (karena ia melakukannya dengan keyakinan hal itu termasuk ajaran agama, bukan dosa).

Dengan demikian jelaslah sudah bahwa perbuatan bid’ah adalah tindak kejahata yang sangat nyata terhadap syariat Islam yang suci dan telah disempurnakan oleh Allah. Dan tidak ada jalan lian untuk membasmi hal tersebut kecuali dengan mendalami dan melaksanakan sunnah Nabi Muhammad SAW, tidak ada penyelesaian lain kecuali dengan mengembalikan semua perkara kepada hukum Allah dan Rasul-Nya.


“Dan bahwa (yang kami perintahka) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa”. (Al-An’am: 153)

Bid’ah adalah gelombang taufan yang dapat menenggelamkan siapapun, dan As-Sunnah yang shahihah adalah “bahtera Nuh”, siapa pun yang mengendarainya akan selamat dan siapa yang meninggalkannya akan tenggelam.

Setiap jalan selain jalan Allah di situ terdapat setan yang akan selalu mengajak dan menanamkan rasa cinta kepada perilaku bid’ah lalu perlahan-lahan menjauhkan kita dari As-Sunnah. Ini adalah salah satu langkah setan di mana secara bertahap ia membisikan syubhat-syubhat itu ke dalam amal nyata, biak dengan mengurangi atau menambah i'tiqad maupun amalan yang tak pernah dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Sangat banyak kaum muslimin yang jatuh dan menjadi korban, setan pun telah memperoleh kemenangan “peperangan” ini dalam banyak kesempatan, baik ketika seorang hamba meyakini i'tiqad tertentu yang menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah atau ketika seorang hamba mengerjakan amalan ibadah tertentu yang tidak pernah digariskan dalam risalah Al-Islam.

Namun Ahlus Sunnah wal Jama’ah satu-satunya golongan yang selamt dan satu-satunya kelompok yang akan dimenangkan Allah telah menetapkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ke dalam lubuk hati mereka yang paling dalam.

Nasihat Allah SWT dan Rasul-Nya telah tersimpan abadi dalam jiwa-jiwa mereka. Allah Yang Maha Bijaksana telah menanamkan dalam hati mereka keyakinan akan kesempurnaan Ad-Din ini, bahwa kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki hanyalah dicapai bila berpegang teguh kepada Wahyu Allah dan Sunnah Rasul-Nya, sebab apapun selain keduanya adalah kesesatan dan kebinasaan! Sebab segala kebaikan terdapat dalam ittiba’ kepada kaum salaf dan segala keburukan terdapat dalam perilaku bid’ah kaum Khalaf!

(Muhammad Ihsan Zainuddin, Khutbah Jum’at Pilihan Setahun: 75)